06 Oktober 2013

Silaturahim IKKP'09

"I don’t feel very much like Pooh today," said Pooh. "There there," said Piglet. "I’ll bring you tea and honey until you do." -A.A. Milne, Winnie the Pooh

Petikan percakapan antara Pooh dan Piglet yang sangat sederhana tapi dapat dengan mudah menyentuh hati siapa saja yang mendengarnya.  Seorang sahabat tidak hanya ada ketika kamu tersenyum bahagia, namun juga ketika kamu bermuram durja dan menganggap dunia ini tidak berpihak padamu. Jika dia selalu ada, bersyukurlah karena kamu telah mempunyai salah satu harta terbesar dalam hidupmu J

Tiga tahun bersama, menjalani kehidupan kampus dengan problematika yang beragam tidak. itu pun yang dirasakan oleh Ikatan Keluarga Kabupaten Pati khususnya angkatan 2009. Tibalah saatnya kami di penghujung jalan tepat di depan menunggu jalan untuk ditapaki masing-masing menuju masa depan. Kita tahu bahwa cepat atau lambat perpisahan itu akan terjadi. ketika kita sudah fokus untuk menggapai mimpi yang selama tiga tahun kita rangkai dengan peluh dan duri. Namun, perpisahan adalah sebuah keniscayaan bukan? Kita hanya tinggal menunggu waktu saja. ketika hal itu tiba maka bawalah semua kenangan bersama dan ingatlah bahwa mereka termasuk dalam tokoh yang membangun cerita dalam drama hidupmu. IKKP 09 sudah mencapai akhir cerita. Kami ingin menutupnya dengan manis, sehingga rencana melakukan perjalanan bersama langsung terbersit di benak kami.

Pada hari Rabu (18/9) IKKP Angkatan 2009 mengadakan kunjungan ke rumah salah satu anggota IKKP lainnya, Mauridatul Hany di desa Ngagel, Kecamatan Dukuhseti. Hany, begitu dia sering disapa, memang sering menjadi tujuan kami berwisata untuk sekedar melepas penat atau justru mencari aktivitas di tengah masa-masa menunggu ‘panggilan’ dari Kemenkeu yang terkadang menjemukan. Sudah sejak lama, Hany mengundang kami untuk datang ke rumahnya. Sejurus kemudian, mata kami langsung berbinar karena sudah mengetahui kebiasaan Hany ketika menjamu temannya yang singgah di rumahnya. Limpahan es kopyor dan sajian makanan laut akan membuat siapa pun yang pernah mengunjunginya ingin kembali lagi ke sana. Kopyor bukan menjadi barang yang langka dan mewah di sana. Pohon kelapa jenis kopyor tumbuh subur di daerah pesisir pantai yang berbatasan dengan Kabupaten Jepara tersebut.

Sekitar 6 motor beriringan membelah jalan Pati-Trangkil yang sekedip pun tidak absen dari kendaraan. Begitu ramainya lalu lintas di jalan ini sehingga perjalanan agak sedikit terhambat. karena satu dan lain hal, Milki dan Lani memilih untuk mengendarai angkutan umum menuju Tayu. Ya, Kecamatan Dukuhseti memang berbatasan langsung dengan Kecamtan Tayu. Setelah sekitar 1,5 jam perjalanan, rombongan bikers dan umbalers sampai di rumah Hany yang tampak selalu sibuk karena diapit dengan aktivitas usaha bahan bangunan milik keluarga dan bengkel milik tetangga.

Kedatangan kami tidak hanya disambut oleh Hany, tapi juga 2 anak kecil yang tanpa sungkan memperkenalkan diri. Mereka adalah adik dan keponakan Hany yang hampir seumuran. Kunjungan kami pun semakin bersemangat walaupun cuaca di luar sangat menyengat. Alhamdulillah, Hany cepat merespon gerak gerik kami dengan menyajikan es kopyor untuk kami. belum cukup, datanglah satu baskom besar berisi bongkahan es batu dan serutan kelapa lezat itu bagi yang merasa kurang.

Makan siang mewah disiapkan Ibunda Hany untuk kami semua. Mewah karena lauknya yang berisi bermacam-macam hasil laut mulai dari kerang, udang, kepiting, hingga ikan membuat kami bingung menentukan pilihan. Terima kasih untuk jamuan yang menyenangkan ini, Hany J

Selepas makan, sholat, dan beristirahat sejenak, kami memutuskan untuk main ke pantai. Tidak seperti sebelumnya, kami mencoba merasakan sensasi pantai yang belum pernah kami datangi berkat rekomendasi Fidei. Lokasinya sangat dekat dengan Benteng Portugis yang sudah menjadi objek wisata yang umum. Sekitar 200 meter, ada pantai yang masih jarang dijamah orang, namanya Pantai Gua Manik. Topografinya yang menjorok ke laut dengan hamparan pasir dihiasi batu karang kecil mengingatkan saya dengan pantai-pantai eksotis di Gunung Kidul, Yogyakarta. Bedanya, disini masih sepi dan minim fasilitas untuk wisatawan. Makanya pantai ini hanya seperti objek wisata local untuk penduduk sekitar. Keuntungannya adalah kebersihan dan keasrian pantai ini masih tetap terjaga. Kami pun bisa bermain dengan leluasa layaknya anak kecil yang sudah lama tidak bermain air.

Yah, mumpung kami belum resmi menjadi orang dewasa (diangkat menjadi pegawai) momen-momen seperti ini tidak boleh terlewatkan.  Karena Kami tidak tahu kapan bisa berkumpul lagi secara fisik, bersenda gurau tanpa berpikir hal-hal yang selalu dipusingkan oleh orang dewasa. Jodoh, Karir, Rezeki sudah ada yang mengatur. Jalani saja kehidupan ini dengan bersungguh-sungguh dan ikhlas tanpa merasa iri terhadap orang lain, insya Allah hati jadi tenang J


Di hamparan pasir jernih ini, kami menuliskan IKKP 09 dan mengabadikan momen bersama, berharap suatu saat nanti bisa berkumpul lagi seperti ini dengan keadaan yang sudah berbeda. Semua sudah tersenyum menggapai mimpi masing-masing, menjadi orang yang kebih bermanfaat lagi bagi diri sendiri dan orang lain namun  tetap selalu bersyukur. Mungkin kita berpisah saat ini, namun sempatkanlah untuk mendoakan teman-teman agar bisa meraih sukses bersama dan tetap berpegang teguh pada agama. Karena sesuai friman Allah dalam Al Qur’an, tiap-tiap mukmin adalah saudara. Jadi harus saling menolong dan mendoakan :)

“Janganlah berjalan di depanku; aku tidak akan mengikutimu. Jangan pula berjalan di belakangku; aku tidak akan memimpinmu. Berjalanlah di sampingku dan jadilah sahabatku.”(Albert Camus)

Semoga Sukses untuk IKKP 09! (MI)



0 komentar:

Posting Komentar

Silahkan tulis komentar anda baik saran, kritik, dan lainnya agar kami menjadi lebih baik..

Anda dapat menggunakan smiley di bawah ini: